Dekadensi Digital dan Ketahanan Kognitif: Analisis Fenomenologis dengan Pemodelan NVivo pada Mahasiswa Biologi untuk Mendukung Pendidikan Berkualitas (SDGs 4)
Keywords:
Brain rot, mahasiswa biologi, literasi digital kritis, NVivo, SDGs 4Abstract
Era digital menghadirkan paradoks bagi pendidikan tinggi: akses informasi semakin luas, tetapi konsumsi berlebihan konten digital berdurasi pendek (TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts) menimbulkan fenomena brain rot yang mengikis kapasitas kognitif mahasiswa. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan fenomenologis dengan analisis tematik berbantuan NVivo untuk mengeksplorasi dampak fenomena tersebut pada mahasiswa biologi, sebuah disiplin yang menuntut fokus, memori kerja, dan penalaran ilmiah tingkat tinggi. Subjek penelitian adalah mahasiswa biologi aktif dengan intensitas tinggi dalam menggunakan media sosial berbasis video pendek. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, jurnal reflektif, dan observasi perilaku belajar. Data dianalisis menggunakan kerangka Braun & Clarke. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsumsi digital kompulsif melahirkan gejala kehilangan fokus, penurunan memori kerja, ketergantungan psikologis, serta lemahnya kontrol inhibisi. Dampak ini diperparah dalam konteks pembelajaran biologi, di mana mahasiswa mengalami kesulitan menghubungkan teori dengan praktik dan cenderung terjebak pada hafalan dangkal. Namun, muncul pula bentuk agensi metakognitif: sebagian mahasiswa secara sadar mengembangkan strategi adaptif seperti Pomodoro technique, active recall, dan spaced repetition untuk menjaga kualitas belajar. Temuan ini menegaskan bahwa dekadensi digital tidak hanya memengaruhi performa akademik, tetapi juga berpotensi menghambat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 4 (SDGs 4) tentang pendidikan berkualitas. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan integrasi literasi digital kritis dan pembelajaran metakognitif eksplisit dalam kurikulum sebagai strategi membangun cognitive resilience. Intervensi pedagogis semacam ini mendesak dilakukan agar pendidikan tinggi tetap relevan dan mampu menjawab tantangan era digital.