Dari Produk Lokal ke Ruang Digital: Penguatan Branding Pusat Oleh-Oleh Desa Wisata Tosari melalui Program Studi Independen
Keywords:
komunikasi, identitas merk, Komunikasi pemasaran digitalAbstract
Desa Wisata Tosari di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, berfungsi sebagai pintu gerbang menuju
kawasan wisata Gunung Bromo dan memiliki potensi produk lokal dataran tinggi yang khas, seperti
sayur, buah, dan olahan masyarakat Tengger, untuk dikembangkan sebagai oleh-oleh. Namun, pelaku
usaha pusat oleh-oleh di kawasan ini masih mengandalkan penjualan luring dan promosi dari mulut ke
mulut sehingga citra produk belum terbangun secara konsisten di ruang digital. Kondisi ini sejalan
dengan temuan bahwa pelaku UMKM di kawasan desa wisata kerap terkendala pengetahuan pemasaran
dan promosi yang efektif (Rachmawati et al., 2025), padahal penguatan branding berbasis komunitas
dinilai mampu mempromosikan produk unggulan dan pariwisata daerah secara berkelanjutan (Harahap
et al., 2024). Program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) membuka ruang bagi
mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk terlibat langsung dalam penguatan branding tersebut. Artikel ini
bertujuan mendeskripsikan proses penguatan branding pusat oleh-oleh Desa Wisata Tosari melalui
Program Studi Independen, mengidentifikasi strategi komunikasi digital yang diterapkan, dan
menganalisis dampaknya terhadap citra serta visibilitas produk lokal di ruang digital. Kajian ini
didasarkan pada konsep destination branding dan komunikasi pemasaran digital, termasuk peran media
sosial sebagai sumber informasi wisatawan yang dapat memengaruhi citra destinasi secara positif
maupun negatif tergantung pengelolaannya (Kurniasari et al., 2024), serta dorongan digitalisasi terhadap
manajemen destinasi yang lebih responsif (Martín-Rojo & Gaspar-González, 2024). Pendekatan yang
digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan strategi studi kasus, melalui observasi partisipatif,
wawancara dengan pengelola pusat oleh-oleh dan pengurus kelompok sadar wisata, dokumentasi proses
kerja, serta analisis konten media sosial sebelum dan sesudah pendampingan berlangsung selama satu
semester program. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan branding melalui pembuatan dan
pengelolaan akun Instagram resmi pusat oleh-oleh yang lebih terjadwal dan konsisten, penyusunan
katalog produk sebagai identitas visual, serta penerapan storytelling produk sebagai daya tarik tambahan
bagi calon konsumen. Pelaku usaha juga menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai
konsistensi identitas merek di ruang digital, sejalan dengan temuan bahwa pendampingan digital
branding meningkatkan pengetahuan pelaku usaha lokal dalam memanfaatkan teknologi untuk
pemasaran (Rachmawati et al., 2025) serta memperkuat posisi produk lokal sebagai bagian dari identitasdesa wisata (Hasanah & Rahayu, 2026). Artikel ini menyimpulkan bahwa Program Studi Independen
dapat menjadi wahana efektif bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk berkontribusi dalam penguatan
branding desa wisata melalui strategi komunikasi visual dan pengelolaan ruang digital yang terarah,
dengan keterbatasan pada durasi pendampingan yang relatif singkat dan cakupan pelaku usaha yang
masih terbatas. Penelitian lanjutan disarankan mengkaji dampak jangka panjang branding digital
terhadap kunjungan dan pendapatan pelaku usaha di desa wisata lain.
